Saturday, May 22, 2010

BAIT TOK AYAH : "PERIGI DAN LAUTAN" - PENGHIDUPAN ADALAH PENGALIRAN DAN BUKANNYA KEKAKUAN

Hidup adalah "pengembaraan atau penziarahan ke tempat kesucian". Bukan bersifat kekakuan, malah sangat dinamik. Ia sentiasa mengalir ke arah yang tidak diketahuinya. Oleh kerana kita sentiasa hidup dalam ketakutan, maka kita bergantunglah kepada apa yang telah kita ketahui dan tidak membenarkan hidup itu terus mengalir, langsung tidak hendak memberinya kebebasan untuk menjengah dan menjenguk ke alam yang tidak pernah diketahuinya, ke 'LAUTAN YANG MAHA LUAS', agar ia dapat menari-nari dengan ombak dan badai kegeloraan. Hidup ini umpama "sungai-sungai yang sedang mengalir deras". Tetapi kita yang menukarkannya menjadi "sebuah perigi".

Menukarkan sebuah lautan kepada sebuah perigi adalah "kaku dan kematian". Hidup yang kekal sebagai sebuah "sungai atau lautan" adalah "penghidupan yang sentiasa mengalir menyahut cabaran yang sentiasa menanti di hadapan".

Sebuah 'perigi' tidak akan mengalir ke mana-mana, "Seperti Katak Di Bawah Tempurung". Semakin hari ia semakin kering, kotor, berlumpur, berbau busuk. Kerana kekakuan itulah ia menjadi 'perigi buta'. Begitulah corak penghidupan orang-orang yang kaku dan tidak mahu mengalir. Air sungai yang mengalir adalah bersih, suci, boleh dihirup, boleh diminum, penuh keseronokan dan kenikmatan, kerana ada saja sesuatu yang tidak diduga yang menanti kita di hadapan.

Ternanti-nanti, tertunggu-tunggu apakah yang akan datang dan berlaku selepas ini? Ingat! Setiap saat 'hidup' itu akan menerjah dengan sesuatu yang mengejut dan memeranjatkan.

Suatu kejutan yang tidak pernah berakhir, suatu kejutan bagaikan menanti dan menunggu sesuatu. Suatu misteri yang tidak pernah diketahui awal dan akhirnya.

Namun kita mesti tetap menjadi "sungai atau lautan yang terus saja mengalir ke lautan Ketuhanan, tanpa cemas, takut, dan gelisah". Tanpa mengharap dan pergantungan selain 'DIA'. Teruskan pengaliran, jangan biarkan diri itu "beku, kaku, dan berlopak tidak mengalir".

Kekalkan sikap dinamik, segar, remaja, walaupun tubuh itu akan terus tua, namun "semangat dan roh tetap tidak tua". Ia akan cepat tua jikalau kita membenarkannya dan perlu diingat dan diketahui;

"Kematian bukan suatu kesudahan, malah ia suatu permulaan, suatu pintu yang terbuka luas ke langit biru, bebas dari kesengsaraan, terpenjara dan terbelenggu".


From Empty Hands,
A.Rahman bin Mahadi
Labis, Johore
016-6020321

23 MAY 2010

Next Topic: 1."Sacrifice Is The Hallmark Of A Doctor"
2. "Manusia Menyalahgunakan Planet Tempat Kediamannya Sendiri".

Tuesday, May 11, 2010

GOOD MOTHERS ARE NATION'S PRIDE

From time immemorial, women of Malaysia by their adherence to ideals have bestowed joy on this land and so occupy an exalted position. Women embody the aspect of Mother Nature and found solutions to problems in life by recognizing this truth.

What is the cause for misery, conflict and suffering in the world today? It is the absence of purity in the hearts of men and women. Please remember!

The behaviour of men and women is responsible for the rise or fall of a nation.

The country would not lack in anything, if there are men and women with pure hearts. But today hearts are completely polluted.

For instance :

Here is a piece of pure white paper. But what is written on one side makes it appear dirty. So too is the case with man's heart. Dirty feelings pollute it... Newspaper of today becomes a waste paper tomorrow. The paper by itself does not have any smell.

The same paper when used to pack roses flowers smells of them: It will smell even of dry fish if it is used to pack them.

When the heart is purified, it shines with compassion. Bad feelings and bad thoughts pollute the heart of man.

Ever since ancient times, women have maintained the hearts pure. Women of such exalted character have set great ideals of women hood.

Today's society is polluted because there is no encouragement for women to cultivate such high ideals. In modern times the ways of life are so perverted that only evil thoughts, evil feelings and evil behaviour rule the roost.

The Organizations of Women have achieved many great things, but men do not recognize their good work. Women are capable of ruling the nations and even the world if they make up their minds. Men should not consider women are mere slaves. Today our country is on the downslide because we take our women very lightly.

There is nothing in this world that women cannot achieve. Recognizing the nature of such women we must encourage them and give than equal opportunities in society. No such encouragement is being given today. Men do not tolerate women joining together for a good cause in an organization. Because of their own selfish interest. Men are unable to recognize the good that women can do to the society.

Generally the women are selfless. Their hearts are full of compassion and love. They take a lot of pains to bring up children on the right path, a task that is almost impossible for men.

"Mother plays a very important role in shaping the character of a child":

The contemporary education is largely responsible for the: "gradual deterioration" of children's behaviour. Nowadays children are being thought all types of wrong terminology.

In earlier days, children used to welcome guests in their homes with humility and reverence. Whereas these qualities are missing nowadays. Today's children aspire for wealth power and friendship but not for character.

What is the use of wealth, power and friendship bereft of character?

Please remember!

Money comes and goes but one must teach them morality and righteousness.

Earlier, children were taught such sacred values.

Today, parents want their children to pursue higher studies and become great, whereas earlier, parents preffered their children to be good rather than becoming great.

You ladies out there... You are the future citizens and future parents of this country. Develop sacred qualities and undertake sacred activities. Only then will your lives become sacred.

Remember! Human life is most precious. The value of woman cannot be estimated or compared. Who attaches value to gold and diamonds? It is because of woman that gold and diamonds have acquired value.

"You men and women are more valuable than all the wealth of the world."

So, do not lose your value by indulging in selfish deeds.

"Fish is better than selfish"

Fish clears the water of its dirts, but the selfish man and woman pollutes the society as he lives in it. My advise, undertake selfless actions. Only then are you fit to be called a human being.


From Empty Hands,
Hj. A. Rahman bin Mahadi
Labis, Johore

11 MEI 2010

Next Topic : 1. "BAIT TOK AYAH - PERIGI DAN LAUTAN"
2. "Sacrifice Is The Hallmark Of A Doctor"

Tuesday, April 27, 2010

MENCONTOHI KEUNGGULAN IBU BAPA ZAMAN DAHULU

Zaman ini remaja atau pelajar tidak lagi diajar nilai-nilai kebaikan. Malah apabila ia Si anak balik saja dari sekolah atau balik saja ke rumah, Si emak terus saja membuka televisyen (TV), atau Si anaknya sendiri yang membukanya. Si bapa atau Si ibu juga turut serta duduk menonton TV.

Dahulu kala, Si ibu bapa bertanya dan membantu anak-anaknya menyemak mata pelajaran yang diajar di sekolah untuk membuat ulangkaji di rumah.

Zaman ini, Si ibu bapa semuanya bercita-cita agar anak-anaknya dapat belajar sehingga ke menara gading dan mencapai kejayaan untuk keduniaan, seperti berjawatan tinggi, berpangkat, berprestij. Sebab itulah kita lihat kini ramai yang terpelajar, berkelulusan tinggi, tetapi bolehlah kita samakan seperti:

"Kita menyimpan wang di dalam bank, tetapi bila kita hendak mengeluarkan
wang tersebut,... ianya tidak laku?"


Mari sama-sama kita halusi apakah puncanya kacau-bilau yang sedang berlaku di seluruh dunia sekarang ini?

Kerana kita "tidak lagi mendapati ibu bapa yang unggul". Maka kita "tidak akan dapati juga anak-anak yang unggul".

'Pendidikan pertama' dan 'utama' adalah di rumah itu sendiri. Jika isi keluarga di dalam sesebuah rumah itu unggul dan baik, apabila Si anak berada di dalam masyarakat keluarga tersebut, ia akan dapat mempelajari nilai-nilai yang baik di sisi masyarakat.

Selaku penuntut atau remaja yang baik, pasti ia dapat mengecam apa juga ilmu pengetahuan, kebijaksanaan dan nilai-nilai yang baik yang telah dipelajari, juga diajar oleh masyarakat di sekelilingnya.

Justru, masing-masing perlu menyoal dirinya apakah yang telah disumbangkannya kepada masyarakat setelah menerima terlampau banyak faedah yang telah diperolehinya? Ingatan!

Kepada semua pembaca!

Kita semua dahulunya adalah remaja, kemudian dewasa, dan tua. Terlalu banyak faedah, sumbangan, tawaran dan pelbagainya demi masyarakat. Tetapi apakah sumbangan semula kita sebagai balasan terhadap mereka?

Demikian kita manusia memang tidak tahu mengenang budi dan jasa. Sepatutnya kita berterima kasih dan bersyukur kepada mereka yang telah menghulurkan tangan dan sesuatu kepada kita.

Apalah guna berpelajaran tinggi, berkedudukan tinggi, jika kita tidak pernah hendak berterima kasih dan menghormati kepada mereka yang telah menyumbang cukai kepada negara.

Tiada gunanya berpelajaran tinggi, sama ada kita bergelar seorang profesional dalam bidang apa pun, tetapi kita diumpamakan: "Seperti Kacang Lupakan Kulit!"

Kepada semua pembaca, ambil ingatan ini!

Perkara paling utama, belajarlah untuk "menghargai dan menghormati masyarakat"; kerana kita dilahirkan di dalam masyarakat, dibesarkan di dalam masyarakat, dan tetap terus "menjadi sebahagian daripada masyarakat", sehinggalah kita mati.

Ikuti satu contoh sebuah cerita:

Seorang anak muda datang menghadap ibunya, lalu mencium tangan ibunya, sambil berkata: "Izinkan saya untuk pergi berperang". Mula-mula Si ibu berat hati dan enggan membenarkan, kata Si ibu: "Bapa engkau sudah tiada, isteri engkau sedang mengandung, aku tidak tahu apa akan terjadi kepada engkau di medan perang nanti? Maka aku nasihatkan, janganlah engkau pergi!"

Berkata si anak: "Ibuku! Bukan begitu caranya ibu mengajar saya, ibu sepatutnya menggalakkan saya pergi ke medan perang, 'seperti singa yang sedang lapar'. Ibu sepatutnya tidak melemahkan semangat saya."

Dengan kagumnya si ibu pun memberi restu sambil berkata: "Anakku! Benar apa yang engkau katakan, ibu merestuimu, pergilah! Ibu iringi dengan doa semoga engkau menang dalam peperangan tersebut."

Kata ibunya lagi: "Anakku! Semoga engkau dipanjangkan umur, semoga engkau dapat menempah nama yang baik untuk keluarga ini, dan semoga Tuhan sentiasa bersama engkau dan melindungi engkau!"

Memanglah menjadi kewajipan seorang anak untuk menempah nama yang baik untuk keluarga, masyarakat dan negara.

Tetapi zaman moden ini, ibu bapa tidak lagi mengajar perkara-perkara yang baik kepada anak-anaknnya, malah membelikan permainan atau sebagainya apabila menyambut hari kelahirannya.

Tetapi zaman dahulu, Si ibu akan menyambut hari kelahiran anak-anaknya apabila Si anak mencipta nama yang gemilang untuk keluarganya sahaja. Ertinya:

"Si ibu bapa tidak akan merasa gembira kerana semata-mata kelahiran
seorang bayi. Si ibu bapa hanya akan merasa gembira apabila Si anak
mempunyai akhlak yang baik dan pencapaian yang gemilang untuk ibu
bapanya, barulah ibu bapa tersebut berasa sangat bangga dan gembira!"


Demikian 'jurang perbezaan budaya' yang sangat luas yang diamalkan oleh orang-orang dahulu dengan orang-orang sekarang.

Semua orang tahu, bukan sahaja seorang ibu itulah yang melahirkan anak-anaknya, tetapi juga menjaga pertumbuhan dan pembesarannya, sehingga ia menjadi dewasa.

"Di riba ibu kita itulah, persekolahan pertama kita."

Sebab, "ibu itulah perkara pertama dan utama dalam apa jua hal"... Ibu itulah mesti didahulukan, pertama-tama mesti dihormat dan disanjung. Ingat!..

"Si ibu itulah orang pertama yang mencorak dan mewarnai penghidupan
si anak."


Walaupun Si ibu menghukum anaknya kerana apa jua kesilapan dan kesalahan, pastinya ia melakukan dengan sifat-sifat kasih sayang, kerana ingin membawa dan menunjukkan ke jalan yang betul. Ingat!..

"Zaman ini ibu seumpama itulah yang kita perlukan."


From Empty Hands,
A. Rahman bin Mahadi
016-6020321

28 APRIL 2010

Next Topic: "Good Mothers Are Nation's Pride"

Monday, April 26, 2010

UNDERSTAND THE PRINCIPLE OF UNITY IN DIVERSITY

Man's mind is the cause of his pleasure and pain. (Mind is responsible for both bondage and liberation of man). When you insert the key into a lock and turn it to the left, the lock gets closed. When you turn it to the right, it opens. It is the same lock and the same key, but the side to which you turn the key matters.

Likewise the heart, the heart may be compared to a lock and the mind to the key. When the mind is turned towards the world, you are attached to the world and when it is turn 'Godward', you get detached and attain liberation. Today man is bound because his mind is turned towards the world.

Please remember! Out of all the living beings, the human birth is the rarest. Man is wasting such a divine and auspicious life. Human body is a gift of God, which has to be utilized to realize One's Self.

The body is an instrument for self-realization.

Just as ears, nose, hands, etc., are the limbs of the body, likewise the body
is the limb of society, society is the limb of the nature.

Please remember! "Body cannot exist if the limbs are separated from it". Likewise the country cannot exist if there is no unity among its 'limbs'.

Our grand-grand father considered their country as their 'VERY HOME'.

They would proudly proclaim that they belonged to their country (Malaysia). Unfortunately, such patriotic feeling is lacking today. People identify themselves with their respective states, saying, "I belong to Tamil Nadu, I belong to Singapore, etc."

By thinking in this sectarian way,...the spirit of unity is lost.

When a limb is cut off from the body, it leads to severe pain and loss of blood. The country also suffers the same fate if the various regions are separated from it. Please bear in mind. We are all Malaysian.

"Develop the feeling of nationality."

You belong to human race. So, develop human values. Today the world is fragmented as man has forgotten human values. Unity of the world can therefore be strengthened by developing human values.

You are a true human being whose thoughts, words and deeds are perfect harmony. Your life will be wrecked if your thoughts, words and deeds are in disharmony. Develop the spirit of oneness. All are one, be alike to everyone.

Different bulbs have different wattages and colours, but the current that flows through them is one and the same.

Jewels are many, but gold is ONE,
Cows are many, but milk is ONE 'colour'.


Beings are many, but BREATH is ONE.

Please take note. You are the embodiment of truth and love. So you should not hate or harm anybody. Hurting others amounts to hurting your own self.


From Empty Hands,
A. Rahman bin Mahadi
Labis, Johore
016-6020321

27 APRIL 2010

Next Topic: 1. "Mencontohi Keunggulan Ibu Bapa Zaman Dahulu".

2. "Good Mothers Are Nation's Pride".

Wednesday, April 7, 2010

PRINSIP KASIH SAYANG KETUHANAN DAN KASIH SAYANG TERHADAP DUNIA DAN SEGALA ISINYA

"Segala Puji Bagi Allah Tuhan Pentadbir Alam."
"Yang Amat Pemurah Lagi Maha Penyayang."

Seluruh dunia ini diliputi oleh "Kasih Sayang Tuhan", bukan sahaja kepada manusia dituntut agar berkasih sayang, dunia ini dengan segala isinya, juga tersirat Kasih Sayang Tuhan. Bukalah mata itu luas-luas hingga menembusi 'mata hati' masing-masing.

Kita mungkin ada atau tidak ada nilai-nilai lain, tetapi setiap dari kita pasti ada nilai kasih sayang. Di dalam dunia tidak ada sesiapa yang tidak ada sifat atau kasih sayang. Namun perlu diketahui, ada terdapat 'DUA' jenis Kasih Sayang.

PERTAMA:

Kasih sayang bersifat 'KEDUNIAAN', yang bersifat sementara.

KEDUA:

Kasih sayang yang bersifat "KEROHANIAN" atau "KETUHANAN".

Buka mata hati, untuk memahami 'Kasih Sayang Ketuhanan'. Kasih sayang Tuhan, 'tidak bersifat kepentingan'. "Kasih sayang Tuhan" adalah "Kasih Sayang Tuhan Itu Sendiri", tanpa ada pertimbangan lain. Ingat!.. Tuhan langsung tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Dia tidak mengharapkan apa-apa jua balasan.

Tetapi "kasih sayang bersifat keduniaan dan segala kebendaan", dicemari dengan sifat-sifat 'kepentingan diri', 'mengharap dan ingin menghakmilik'.

Ingat! Di mana ada kepentingan, maka wujudlah "kecemasan dan ketakutan". Jika tidak ada kepentingan, maka tidak adalah takut dan kecemasan. Maka kita manusia "sepatutnya tidak perlu ada kepentingan dalam berkasih sayang". Malah "melalui kasih sayanglah seseorang itu terbuka mata hatinya". Ingat!.. "Tuhan Tidak Berupa". "Yang berupa adalah kebendaan". Maka Tuhan tidak mengharap kebendaan sebagai balasan.

"Kasih Sayang Adalah TUHAN", dan
"TUHAN Itulah Kasih Sayang".

Justeru, hiduplah dengan berkasih sayang, maka sangat penting bagi kita mengikat silaturrahim, berkasih sayang, mengaitkan kasih sayang dengan kasih sayang. Melalui kasih sayang begitu kita akan nikmati "Kasih Sayang Ketuhanan" yang semakin kukuh dan jitu.

Ciri-ciri "kasih sayang Ketuhanan" adalah 'tidak bersifat',
suci, kekal,tidak ternoda, kasih sayang yang bebas dari kejahilan.
"Kasih sayang seumpama itu adalah kasih sayang yang meliputi dan meresapi
seluruh kewujudan"
.

Kasih sayang merupakan 'magnet', mempunyai 'kuasa' atau 'daya penarik' yang kuat terhadap sesiapa saja. Kasih sayang begitulah punca penarik sesama kita. Magnet atau kuasa penarik kasih sayang seumpama itu terdapat pada setiap orang. Semuanya itu kerana kasih sayang yang terdapat pada setiap orang itu adalah "pancaran kasih sayang Tuhan itu sendiri".

Kita manusia sebenarnya telah dianugerahkan kuasa yang hebat di mana tidak terdapat pada makhluk-makhluk lain. Semuanya itu tidak kita sedari apabila kita mengasihi selain dari 'Allah' atau 'Tuhan' selaku pencipta.

Tidak dapat dinafikan, apabila kita mengasihi seseorang, balasannya seseorang itu akan mengasihi kita semula. Justeru, mengapakah kita tidak mengasihi juga seluruh kewujudan dengan tidak memilih-milih, agar kita dapat merasai kasih sayang secara total, terhadap seluruh kewujudan seperti kasih sayang Tuhan.

Namun 'sembilan puluh sembilan peratus' kasih sayang manusia kini tertumpu kasih sayangnya kepada "sesuatu objek yang bersifat keduniaan", yang hanya bersifat sementara, yang tidak kekal.

Di bawah ini ada sedikit contoh bagaimana sifat seseorang menyayangi hal-hal keduniaan.

Bila seseorang muda yang baru berkahwin, ia menganggap isterinya
itulah 'nyawanya' bagi 'setahun dua'. Jika ia terlihat duri atau paku
di jalanan sewaktu bersiar-siar, dengan nada lembut dan pelukan erat,
cepat-cepat ia mengingatkan, dikhuatiri kaki isterinya terkena benda
tajam tersebut.

Selepas masuk 'tahun ketiga', jika si suami menemui duri atau benda tajam
sewaktu jalan bersama, dia cuma mengingatkan saja. Sudah tiada belaian lagi,
suaranya sudah tidak lunak dan lembut, malah keras nada suaranya berkata;
"Awak tak nampak ke?"

Ingat! Kasih sayang yang bersifat keduniaan, sifatnya menyusut, merosot, semakin kurang dari hari ke hari.

Tetapi kasih sayang Tuhan tidak begitu, tetapi stabil dan tetap, tidak berubah. Justeru, semua orang mestilah berusaha untuk mencapai "kasih sayang yang abadi, kekal dan tidak berubah-ubah".

Ramai di antara kita sukar mencapai kasih sayang begitu, kerana keinginan keduniaan dan kasih sayang yang bersifat keduniaan mengekang kita semua sehingga 'mata hati' kita tertutup rapat.

Ambil perhatian saudaraku yang budiman!

"Hidup ini bagaikan suatu pengembaraan yang sangat jauh, dan keinginan yang
melampau-lampau, itulah beban hidup yang sedang kita pikul bersama"
.

Kita akan bebas dari segala kebimbangan dan kecemasan atau permasalahan, jika kita pandai "mengurangkan keinginan-keinginan dunia secara beransur-ansur".

Saudaraku yang dikasihi!

Tidak usahlah kita bersusah payah hendak belajar 'ilmu Ketuhanan' atau 'ilmu Kerohanian' secara mendalam, yang amat sukar untuk seseorang memahaminya.

Cukuplah sekadar kita berpegang kepada "prinsip-prinsip kasih sayang" dalam hidup kita sehari-hari. "Prinsip kasih sayang" terdapat pada seseorang sebenarnya sama saja, dari seorang papa kedana, sehinggalah seorang yang bergelar jutawan. Kerana seorang jutawan pun bergantung pada makanan, garam yang dikecapinya pun berasa masin, sebaliknya bukanlah 'emas' menjadi makanan hariannya.

Tubuh badan itu terbina daripada makanan harian kita masing-masing. Tetapi 'akal' kita itulah yang "merupakan beban-beban keinginan yang melampau".

Semuanya itulah "akar umbi kepada kepalsuan" dan membuat seseorang itu terpedaya. Maka tidak usah dihairankan kini manusia hidupnya penuh dengan tipu daya dunia, jika dia mempunyai keinginan-keinginan yang melampau.

Ambil perhatian, saudaraku pembaca!

Rasa cinta, kasih dan sayang adalah "RASA PALING UTAMA" dalam setiap orang. Lain-lain rasa atau perasaan berasal dari kasih sayang itulah.

Sebaik saja kita faham "Prinsip Kasih Sayang", nanti kita akan faham kasih sayang yang terdapat pada semua makhluk seperti yang terdapat pada binatang-binatang, unggas-unggas, dan yang lain-lainnya yang terdapat di seluruh universe ini.

Yang 'PERTAMA' dan 'paling utama', kita manusia mesti mempunyai 'kuat keyakinan' (iman);

"Di Mana Ada Keyakinan, Di Situ Ada Kasih sayang"
"Di Mana Ada Kasih Sayang, Di Situ Ada Kebenaran",
"Di Mana Ada Kebenaran, Di Situ Ada Ketenangan".

Kita tidaklah bersusah payah mencari 'ketenangan' di mana-mana, maksudnya "di luar dari DIRI itu" - "Ia berada di dalam DIRI masing-masing".

Ingat!

"Di dalam DIRI itulah gedung atau gudang kebenaran dan kasih sayang".

Malah kalau kita faham, seluruh dunia ini juga berada di dalam DIRI masing-masing. Seperti kesemua "empat anasir" terdapat pada diri masing-masing. Nama dan rupa kita memang berbeza. Tetapi anasir yang sama terdapat pada diri masing-masing.

Di dalam dunia tidak terdapat seseorang pun yang tidak mempunyai "empat anasir" tersebut.

Seperkara yang perlu diingat; "Selagi kita mempunyai sifat angkuh dan sombong, tiada siapa yang akan menyayanginya, termasuklah isteri atau suami, dan anak-anak, jiran, dan juga kawan-kawan". Maka berlakulah "kasih sayang yang penuh kepura-puraan", tetapi itu bukan kasih sayang sebenar, namun apa pun, puncanya adalah;

"Keangkuhan, kesombonganlah yang mengiringi kasih sayang masing-masing".

"LOVE CAN UNITE THE ENTIRE WORLD"


From Empty Hands,
A. Rahman bin Mahadi
Labis, Johore
016-6020321

08 APRIL 2010

Next Topic: "Understand The Principle Of Unity In Diversity"

Tuesday, March 30, 2010

MIND IS LIKE A MIRROR

Mind is like a mirror... It only reflect. It can only give you a shadow experience: Never the real, never the original. It is like a lake, and you can see the full moon in the lake reflected, but the reflection is not the real moon. And if you start thinking that the reflection is the real moon, you will never find the moon.

When the deluded in a mirror look;
They see a face, not a reflection.


What is the difference in seeing a face and not a reflection. When you start seeing the face in the mirror, you are deluded, you are thinking;
"That is my face." That is your face - that is just the reflection of your face. In the mirror there can be no real face, only reflections.

Mind is a mirror! It reflects reality, but if you start believing in that reflection, you are believing in untruth, in the image. And that very belief will become a barrier. My friend, if you want to know the truth, put the mind aside... Otherwise it will go on reflecting and you will go on looking at the reflection. My advise, put the mind aside! If you really want to know the real, then go against the reflection.

For example, you see the full moon reflected in the lake. Now, where are you going to seek the full moon? Are you going to dive deep into the lake to find the moon? Then you will never find it. You may even miss yourself. If you really want to see the real moon, then go against the reflection, just in the diametrically opposite direction - then you will find the moon. Don't go in the mind; go diametrically opposite to the mind.

Mind analyzes; you synthesize. Mind believes in logic; don't believe in logic. Mind is very calculative, mind is very cunning; you be innocent. Go in the opposite direction! Mind asks for proofs, reasons - don't ask for proofs and reasons, that is the meaning of trust: Go into the opposite direction.

Mind is the great doubter. If you doubt, you go into the mind. If you don't doubt, you go against the mind. Doubt not!

Life is to be lived, not to be doubted. Life is to be trusted. Go hand in hand with trust, and you will find truth: Go with doubt and you will go astray.

The search for truth is the search in the opposite direction of the mind because "MIND IS A MIRROR", it reflects.

And to put the mind aside, is what meditation is all about; to put the thoughts aside, thinking aside, meditation aside, is what meditation is all about.

So, to all spiritual seekers, if you want to look into reality without thoughts reflecting it, "put your mind aside - master your mind", and then only you can become "master mind".

Because truth is here now, then you are truth, and all is truth... Remember! It is not an easy task, because "Mind is the great faculty of delusion, illusion of dreaming."

From Empty Hands,
A.Rahman bin Mahadi
Labis, Johore
016-6029321

31 MARCH 2010

Next Topic: 1. "Prinsip Kasih Sayang Ketuhanan dan Kasih Sayang Terhadap Dunia
Dengan Segala Isinya"


2. "Understand The Principle Of Unity In Diversity"

Wednesday, March 24, 2010

MASALAH

Manusia dengan akalnya sentiasa saja berusaha untuk melakukan dua perkara yang mustahil.

PERTAMA:

Ia "cuba merubah sesuatu yang telah berlaku dan telahpun berlalu" - yang mana ianya adalah sesuatu yang mustahil. Ertinya, segala yang telah berlalu..., ertinya 'sudah mati' atau 'sudah tiada lagi'. Ingat itu!
Tiada siapa boleh masuk ke 'alam semalam', 'alam lampau'. Untuk pengetahuan, paling tidak pun, kita hanya mampu pergi ke 'alam memori'. Ingat! yang dikatakan 'semalam' - 'sudah tidak ada' di situ. Justeru, kita tidak boleh merubah apa-apa. Itulah salah satu perkara mustahil yang menjadi matlamat hidup manusia yang jahil - yang ke belakang atau yang mundur.

Manusia telah menderita dan mengalami kesengsaraan oleh sebab kejahilannya, dan tidak memungkinkan seseorang punya pemikiran yang boleh membawanya maju ke hadapan.
Kita manusia cuba merungkai - sesuatu yang telah berlalu - mana mungkin kita mampu melakukannya? Ingat!

"Yang lepas, lampau atau yang sudah berlalu, sudah jadi mutlak". Ingat itu!

Yang lampau ertinya; segala potensinya sudah habis, sudah tiada lagi. Justeru, maka tiada potensi untuk merubahnya, merungkainya. Maka tidak boleh berbuat apa-apa terhadap segala yang telah berlalu.


KEDUA:

Idea yang mustahil yang telah menguasai akal fikiran manusia adalah;
"Cuba membuktikan atau menentukan masa hadapan", satu lagi perkara mustahil. Fahamkan betul-betul:

Masa hadapan adalah "sesuatu yang belum lagi lahir" atau "belum wujud". Tiada siapa boleh dan cuba membuktikannya, yang juga tiada siapa mampu melakukannya. Dalam ertikata lain; yang dikatakan 'masa hadapan' (future), masih lagi bersifat 'terbuka'...(remains open). Masa hadapan adalah "sesuatu yang suci potensinya, masih lagi tidak terusik dan tercuit!"
"Yang lampau atau yang telah berlalu adalah mutlak". Ia sudah pun berlaku dan tidak ada apapun yang boleh kita olah dan dirungkai lagi.

Di antara keduanya, 'semalam' dan 'esok'; kita semua berada di tengah-tengahnya. 'Saat ini!' - 'sekarang!' "Esok bermula hari ini... saat ini". Maka buatlah sesuatu hari ini, saat ini. Dan di antara esok dan semalam, kita berada di tengah-tengah. Dan di tengah-tengah atau saat inilah kita manusia memikirkan perkara-perkara yang mustahil.

Ia cuba menentukan dan menetapkan masa hadapannya. Saya ingatkan, jangan habiskan waktu saat ini dengan mengingat-ingat dan menetapkan sesuatu yang mustahil.

"Esok belum pasti" - Itulah nilai yang sangat bernilai tentang hari esok. Dan juga jangan membuang masa menoleh ke belakang, ia telah pun berlalu dan sudah pun berlaku. Paling tidak, apa yang boleh kita lakukan adalah menterjemahkannya semula di ingatan atau memori itu. Itulah yang dilakukan oleh pakar 'psychoanalisis' (memeriksa dan merawat keadaan fikiran dengan cara menyelidik pergabungan unsur-unsur sedar dan tidak sedar).

Untuk makluman pembaca; 'menterjemah' memang boleh dilakukan - tetapi apa yang telah berlaku, tetap kekal berlaku.

Ahli astrologi, tukang tilik, juga cuba meramal hari esok, dan ia ramai pengikut. Ahli 'psychoanalisis' pula cuba untuk merungkai sesuatu yang telah berlalu.

Sama ada ia ahli Sains dan sebagainya, kita manusia memang suka pergi kepada 'tukang tilik' dan bertanya kepada 'I Ching', ada seribu macam cara untuk memperbodohkan manusia dan menipu diri sendiri.

Saudaraku pembaca!

Nasihat saya; gugurkanlah perkara-perkara karut begitu.
"Buatlah sesuatu saat ini - esok akan pasti wujud sesuatu".
"Kalau kita tidak menanam sesuatu hari ini, apakah akan wujud pada esok?"

"Jangan hancur dan musnahkan saat ini, inilah saat yang ada pada setiap orang,
maka manfaatkanlah ia."


Orang Barat, suka melihat kepada permasalahan, dan caramana hendak merungkainya. Orang Barat menganggap sesuatu masalah itu sebagai sesuatu yang sangat serius, bila diterima oleh akal logik dan ada ruang yang munasabah, maka logik tersebut dianggap betul dan sempurna. Bila kita mula memikir ke arah satu garisan, selari saja. Maka di garisan tersebut akan membuat kita kuat mempercayainya.

Yang tidak masuk akal dan mustahil, juga telah mempengaruhi seseorang.
Ingat saudara pembaca!

"Sebaik kita mengambil dan menganggap bahawa manusia itu punya masalah secara serius, itu ertinya kita telah mengorak langkah ke arah jalan yang salah".

Maka ramailah yang menuju ke arah tersebut dengan seribu macam masalah. Maka lahirlah 'fenomena', semua orang ingin menulis mengenai 'fenomena akal'.
Wujudlah pelbagai buku yang ditulis dengan panjang lebar. Ia bagaikan membuka 'pintu logik', dan "terpengaruhlah sesiapa yang membacanya".

Orang Timur yang arif lagi bijaksana, punya pandangan dan tinjauan yang berlainan. Pertama-tama padanya;... "Katanya tiada masalah yang dikatakan serius".
Pada masa ia mengatakan bahawa "semua masalah tidaklah serius" - "Semua masalah Sembilan Puluh Sembilan peratus mati". Seluruh visi kita berubah terhadap seluruh masalah tersebut.

Perkara Kedua; Orang Timur yang arif lagi pakar, mengatakan bahawa; "Semua masalah yang berada di benak masing-masing, kerana kita "tidak arif" atau "tidak tahu untuk menggugurkannya" dan ingat! "Ia tiada kena-mengena dengan hal-hal yang sudah lampau dan sudah pun berlalu", dan "ia juga tiada kena-mengena dengan sejarah lampau".
Cuma ia masih terpaku dan tersemat di akal masing-masing, yang dibawa ke sana ke mari hingga ke tidur.

Ingat!
"Itulah anak kunci bagi menyelesaikan segala permasalahan - jika kita arif dan bijaksana".

Tetapi kalau kita pergi ke pakar, seperti penganalisis akal - jika kita orangnya pemarah, nanti ia akan berkata:
"Pandang ke belakang, ingat sejarah, bagaimana punca masalah itu lahir atau timbul? Situasi yang bagaimana dan cara mana yang membuatkan kita marah, yang sudah terlekat dan terpaku buat sekian lama, nanti pakar tersebut akan mengatakan kepada kita, kita kena cabut segala yang sudah menekap lama. Kita kena hapuskan dan membersihkannya sehingga ke akar umbi."

Tetapi kalau anda jumpa orang Timur yang faham ilmu mistik, dia akan berkata:
"Kita fikir kita sedang marah, maka kita terbawa-bawa dengan amarah tersebut - Itulah silapnya kita". Orang mistik mengingatkan kita; Lain kali kalau kita sedang marah - jadi sahaja pemerhati kepada amarah tersebut, atau jadi saja penyaksi.

Seperti kita sedang menonton tv, saksikan saja. Lihat pada diri itu, bagaikan kita sedang melihat seseorang di hadapan kita. Memang ia tidaklah semudah itu, kecuali "orang-orang yang sudah celik mata hatinya" dan sudah benar-benar mengenal dirinya, mampu melakukannya.

Orang-orang yang sudah mengenal dirinya, adalah orang-orang yang kesedarannya sangat suci. Seluruh permasalahan yang sedang dihadapi oleh semua manusia adalah 'cuba membuat kerja mustahil'.

"Dua - tidak boleh tolak tiga" - Maka memang tiada jawapannya. Justeru, bagaimanakah kita hendak menyelesaikan seluruh masalah? Tetapi jika telah mempelajarinya, maka tidak timbul soal berapa banyak masalah kita, kerana kuncinya adalah:

"Anak kunci yang sama juga yang membuka mangga (padlock) yang sama".

Dalam ertikata lain, kita yang membuat masalah, maka kitalah yang kena selesaikan masalah tersebut.

Pergi ke hari yang lampau setelah 31 tahun berlaku, amarah kita masih terbawa-bawa ke saat ini, sedangkan ia sudah tidak wujud lagi dan ia sudah bukan sebahagian daripada kita lagi. Lupakan! Bina hidup baru.

Contoh masalah kecil mungkin juga ia masalah besar:

1. Gaji 'dua ribu' sebulan - belanja 'tiga ribu'. Itu merupakan masalah,
'dua' tidak boleh tolak 'tiga' - di manakah jawapannya?

2. Membandingkan diri kita dengan orang lain.

3. Memikir-mikir sesuatu yang mustahil.

Ingat pesan saya ini. Jika kita bermasalah, belajarlah jadi...!
"Penulis di atas air."

Selamat merenung dan berfikir!


From Empty Hands,
A. Rahman bin Mahadi
Labis, Johore
016-6020321

25 MAC 2010

Next topic: "The Mind Is Like A Mirror"